JUST BROADCAST UR SELF
4 Mar
Publishing ?? apa ya? publishing yang saya akan ulas adalah mengenai penerbitan suatu media cetak, baik koran,majalah, dan sejenisnya. Kenapa??ya pengen aja, :). Penerbitan media cetak saat ini memang mengalami masa pasang surut terutama saat krisi global tahun kemarin. Karena biaya cetak meninggi dan para advertiser(peng-iklan) saat hati-hati dalam memasang iklan mereka, pendapatan iklan pun menurun, dan berimbas dengan operasional suatu media cetak. Banyak media cetak yang gulung tikar,mengurangi jumlah karyawan, tidak hanya di dalam negeri,justru media-media cetak diluar negeri yang besar-besar malah lebih banyak yang bangkrut.
Untuk mengatasi masalah ini, beberapa media cetak mulai mengurangi oplah mereka. Dan mereka banyak yang lebih memfokuskan untuk men-”digitalkan” edisi cetak mereka. Karena biaya akan lebih bisa ditekan dan jangkauanpun bisa sangat luas. Oh iya sebelum cerita lebih lanjut, mo jelasin digital publishing itu yang bagaimana. Apakah sama ya dengan media online??? mungkin menurut saya digital publishing itu secara sederhana diartikan sebagai mencetak media dalam bentuk digital tidak mencetak ke bentuk kertas(koran,majalah,dll), atau dapat dikatakan edisi cetak yang dionline-kan secara digital. Jadi bentuk layout dan isi termasuk iklan-iklannya sama dengan edisi cetak. Biasanya menggunakan file PDF. Sedangkan media online lebih ke arah portal berita dimana berita yang ditonjolkan adalah ke-update-an dari beritanya. Kelihatankan perbedaannya, kalo Digital Publishing biasanya sudah tidak diupdate lagi,karena mengambil edisi cetak, dan menguntungkan buat klien pemasang iklan,karena iklan full nongol sesuai dengan yang di cetak.
Digital Publishing ini sendiri dipilih untuk lebih mengefisienkan biaya dan memperluas cakupan pembaca karena dipublish di internet(keterbatasan hanya pada bahasa,heheheh). Dimungkinkan sebuah media hanya memiliki kantor kecil,untuk tempat mengedit artikel dan layout tanpa harus pusing memikirkan pencetakkan korannya. Penyedia jasa digital publishing ini juga cukup banyak tersedia dari yang gratisan(tentu dengan beberapa fitur-fitur yang tidak aktif) sampai yang berbayar. Beberapa penyedia jasa tersebut adalah : issuu : layanan ini gratis dan ada juga layanan pro dengan biaya $19/bulan tentunya dengan tambahan beberapa fitur menarik. Kemudian layanan lain yang sudah terkenal adalah dari pressmart. Layanan ini adalah layanan berbayar dengan beberapa fitur menarik. Harganya mulai $25 perbulan. Fitur-fitur seperti keyword search,mobile format,iklan,dan lainnya. Pressmart cukup terkenal di dunia digital publishing, di Indonesia juga banyak yang memakai layanan ini seperti untuk e-papper media indonesia(kalo gak salah). Sebenarnya masih ada lagi yang lain,cuma yang saya ketahui adalah 2 layanan tersebut karena sempat ikut seminar dan presentasinya.
Bagaimana kiprah Digital Publishing ini di Indonesia negara yang kita cintai ini. Saat ini untuk digital publishing atau e-papper sudah banyak digunakan di Indonesia baik dari koran,majalah,dan lain-lainnya. Media yang menggunakan antara lain : balipost,media indonesia,kompas, dll nya. Kenapa mereka menggunakan e-papper ini??? salah satu faktor utama adalah karena ingin memperluas area pembaca mereka, dan saat ini e-papper masih belum digunakan untuk upaya efisiensi pengurangan oplah cetak. Selain itu karena untuk penambahan pembaca,otomatis akan meningkatkan pendapatan iklannya. Benarkan bisa menambah area pembaca hingga keseluruh dunia???bisa dikatakan iya dan juga bisa dikatakan tidak. Mengapa? karena kita ketahui internet memang saat ini tidak ada batas namun yang menjadi pembatas bagi media-media ini adalah “BAHASA”. Kebanyakan masih menggunakan bahasa Indonesia dan belum ada traslate ke bahasa inggris. Jadi non-Indonesia akan tidak membacanya,dan bisa dilihat peningkatan pembaca menjadi tidak terlalu signifikan. Dengan kata lain masih menyasar pembaca dari orang Indonesia yang merantau di seluruh dunia.
Mungkinkah DIGITAL PUBLISHING ini akan menggantikan PAPER PUBLISHING di Indonesia??? Menurut saya sih gak mungkin. Kenapa gak mungkin, karena :
Nah bagaimana menurut anda mengenai Digital Publishing??kita tunggu seiring berjalannya waktu saja. Yang jelas saat ini PAPER PUBLISHING masih didepan.
foto : issuu.com
8 Responses for "DIGITAL PUBLISHING VS PAPER PUBLISHING"
oohhh begitu…
*manggut-manggut*
issu memang keren. tampilannya bener2 cantik dan enak dibaca. cuma agak lama pas buka. kali karena file yg dimasukin juga gede2.
Mungkinkah DIGITAL PUBLISHING ini akan menggantikan PAPER PUBLISHING di Indonesia???
mungkin pertanyaan itu untuk saat ini yah, kalau untuk ke depannya bisa aja DigitalPublishing akan menggantikan Paper Publishing. Apalagi kalau tidak salah,pemerintah akan menerapkan internet masuk desa, nah dengan masuknya Internet ke desa untuk penduduk desa penasaran dan akan mulai melek teknologi.
Mengenai apa keuntungan Digital Publishing menurut saya banyak banget yah,selain mengurangi ongkos cetak dll, DigitalPublishing juga sangat berguna buat lingkungan,karena dengan Digital Publishing ini berarti akan mengurangi produksi kertas dengan berkurangnya produksi kertas maka semakin sedikitlah pohon-pohon yang ditebang untuk dijadikan kertas.
mimih..lantang je comment puk…
ada kata-kata ne pelih…
“nah dengan masuknya Internet ke desa untuk penduduk desa penasaran dan akan mulai melek teknologi.”
harusnya “dengan masuknya Internet ke desa akan membuat pendudukdesa penasaran dan akan mulai belajar caranya menggunakan Internet.”
sory….bli
sip sip ka…tapi pidan kaden nyama di munti gunung maan internet ne…heheheh
—-Belum semua rakyat Indonesia mendapatkan Koneksi Internet apa lagi koneksi yang layak.—-
bli, jangan dulu bilang rakyat indonesia yg pengertiannya sungguh2 sangat2 mengglobal, kantor saya, di pinggiran kota denpasar ( deket dalung ) yg notabene memerlukan “pengetahuan update, DIGITAL PUBLISHING”, masih banyak ruangan yg belum terjamah internet… hehee…
kalo saya se lebih prefer ke digital publishing biar mengurangi sampah-sampah iklan di jalanan gitu..
tapi emang se agak susah melihat kondisi rakyat Indonesia yang belum terlalu melek teknologi
Ada pola menarik disini: media yang beralih dari konvensional ke digital adalah media yang sudah punya nama dan oplah penjualan tinggi di dunia konvensional. Sementara itu, media yang levelnya masih “menengah” tampaknya belum mulai melangkah untuk memasuki dunia digital publishing. Kalaupun ada hanya sebagai pelengkap dan kadang kurang up-to-date.
Dilain pihak, beberapa perusahaan kecil malah langsung lompat ke ranah digital publishing tanpa mencoba-coba offline publishing terlebih dahulu. Hm..
Leave a reply